BBM naik lagi???? kenapa tidak
Beberapa minggu ini Indonesia mulai panas lagi. dari mulai kejuaraan beregu Thomas dan Uber, kontroversi film ML, sampai hal yang menguasai hajat hidup orang banyak, yaitu BBM
Pemerintah berencana menaikkan harga BBM.
Muncul berbagai reaksi, tapi kalau kita mau tarik benang merahnya, kayaknya akan terdengar satu nada yang jelas dari berbagai penjuru nusantara, apalagi kalau bukan menolak naiknya harga BBM.
Banyak kalangan mahasiswa yang juga menolak kenaikan harga BBM ini? tapi apa benar ini juga suatu gerakan moral mahasiswa dalam membela kepentingan rakyat. Sebagai orang awam, saya jelas-jelas tidak akan tahu perhitungan di balik kenaikan tersebut. tapi secara logika sih kenaikan ini merupakan hal yang sangat wajar. Harga minyak dunia memang melonjak ga ketulungan. Jadi kalau menurut saya sah-sah saja sih. Sangat wajar.
Kalau ditanya mengenai nasib rakyat, itu adalah hal yang klasik dan bahkan menurut saya terlalu dipolitisir saja. Hanya saja saya cukup menyesali kebijakan pemerintah untuk memberi Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat. Hal itu sangat tidak efektif dan akan sangat sulit mengontrol pelaksanaannya. Sisi lainnya, hal itu bisa dikatakan menjadikan rakyat kita sebagai rakyat yang mempunyai mental pengemis. Kalau menurut pandangan saya, lebih baik subsidi BBM yang sifatnya untuk konsumsi bisa sedikit demi sedikit dikurangi yang kata lainnya secara bertahap BBM harganya dinaikkan. Tapi perlu diingat, pemerintah sebaiknya tetap memberi subsidi ke sektor yang lebih produktif.seperti sektor industri maupun industri kecil dan nelayan. Dengan begitu bisa diharapkan jumlah tenaga kerja yang terserap dapat bertambah bukannya berkurang seperti saat ini. Memang jika kebijaksanaan ini diambil maka akan terkesan sangat kapitalis. Tapi pada akhirnya kita akan bertanya, menurut anda siapakah yang perlu diberi subsidi atau kemudahan itu adalah orang yang hanya menunggu rejeki jatuh dan segera menghabiskannya atau orang yang bisa menggunakan fasilitas tersebut dengan lebih produktif……
Maaf, Kesalahan dan Belajar
Maaf merupakan sebuah kata yang sangat sederhana. Hanya terdiri dari 4 huruf dan sebenarnya hanya terdiri dari 3 jenis huruf saja, yaitu m, a, dan f saja. Namun sungguh disayangkan bahwa kesederhanaan dari kata “maaf” tadi tidak mudah untuk dipahami apalagi untuk dapat diungkapkan dengan begitu tulus.
Sebenarnya apa yang salah dengan kata “maaf”? Sangat sederhana dan pendek tapi sulit terucap. Apakah gengsi dan harga diri kita begitu tinggi sehingga kata itu sulit terucap. Memang dalam kehidupan sehari-hari kata “sorry” atau “sori” terserah bagaimana kita menulisnya sih, akan lebih mudah terucap, tapi menurut saya lebih pada level bercanda. sebenarnya aneh ketika dalam kondisi nyantai atau sedang bercanda kata ini sebenarnya sangat mudah meluncur dari mulut kita, tapi ketika muncul sesuatu yan serius muncul, mulut kita ibarat terkunci sehingga kata “maaf” sangat sulit terucap.
Muncul pertanyaan yang kadang menggelitik dan kadang juga bikin geli. Apakah semua dari kita ini begitu sempurna sehingga ketika kita harus mengakui kesalahan akan terasa berat, atau justru kita ga pernah merasa salah? Apakah kesalahan itu sangatlah buruk dalam pandangan masyarakat kita? Apakah kesalahan akan membuat kita merasa rendah sehingga kita sangat berat untuk mengakuinya dengan kata “maaf”. Kesalahan adalah hal yang wajar sebenarnya. Siapakah yang tidak pernah melakukan kesalahan? Sebaliknya kesalahan adalah awal ketika kita belajar. Paling tidak dengan mengakui kesalahan kita, berarti kita sudah mengetahui apa yang benar itu. Bukankah itu berarti kita sudah bertambah pemahaman kita tentang suatu hal? Kalau kita tidak pernah salah, yang saya takutkan bahwa kita tidak pernah belajar sesuatu yang baru dan kita hanya berkutat pada hal yang sudah kita ketahui saja.
Sebuah perenungan mungkin dapat kita pikirkan lebih dalam lagi? Berapa kali kita sudah mengucapkan maaf dengan tulus? Pernahkah kita belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan? atau kita sangat egois sehingga kita merasa diri kita paling benar sehingga kita mungkin tidak perlu belajar hal yang baru?
Maaf, saya mengakui saya telah berbuat salah…………………………………..
It’s monday
Ga terasa setelah istirahat di hari Sabtu dan Minggu ketemu lagi ma hari Senin. I love Monday, ya meski banyak orang bakal lebih banyak yang bilang I hate monday. tapi itu terserah mereka sih. Hari senin menurutku enak karena aku kembali pada ritme hidup yang semula. Setelah bermalas-malasan di hari Sabtu dan Minggu, dengan hanya menghabiskan waktu untuk bermain game Football Manager 2008 dan Caesar3, plus nonton tayangan sport di televisi, senin datang lagi menyelamatkan diriku, memberi semangat hidup yang baru. bangun pagi dan siap-siap beraktivitas menjalani rutinitas hidup. rutinitas yang mungkin sangat menjemukan tapi juga terkadang penuh dengan tantangan hidup dan keasikannya sendiri. Kebetulan senin ini agak sibuk juga, maklum hari selasa ada verifikasi audit ISO. Maklum bos, kena finding sampai 7. Rekor seumur hidup ni, dan aku harap ga terulang lagi. Selain itu juga harus siapin bahan buat project TPM (Total Predictive Maintenance), tanggung jawab lain yang juga harus disiapin dan dikerjakan, maklum masih kerja ikut orang, lom punya usaha sendiri, alias masih cukup kere lah. Cari-cari bahan untuk presentasi sekaligus training. tapi cuma buat klarifikasi, aku ini kerja di bagian engineering bukan di HRD, walaupun aku juga harus siapin bahan training sendiri. (satu penjelasan yang sangat ga penting, hanya memenuhi halaman saja.) he2…. namanya juga orang lagi iseng nih. kalau ga iseng ngapain lagi siang-siang gini nulis blog……………
ya intinya senin itu ga buruk-buruk banget sih. just enjoy your work. jangan pernah ngeluh, sebenernya kan suatu beban itu terasa berat karena kita dah ngeluh duluan……………….so enjoy your monday morning next week………………………. and keep up your good work….
Pilkada = adu image, bukan adu program
Minggu, 13 April 2008 Jawa Barat punya hajatan besar. Pilkada Jabar untuk memilih Gubernur yang baru. Memang gegap gempitanya ga seseru waktu pemilu sih, tapi lumayan lah buat pemanasan, begitu juga pilkada-pilkada di tempat lain. Namun kalau diamati ada tren baru nih di alam demokrasi Indonesia kita ini, itu sih kalau bisa disebut seperti itu. Kayanya tren selebriti yang terjun ke dunia politik mulai laris manis. Walaupun bener sih dari dulu juga udah ada, tapi kayanya bukti konkritnya sekarang makin kentara deh. Lihat juga Bang Doel alias Rano Karno yang juga laris manis dan terbukti bisa menang. Yang seru lagi Bung Dede Yusuf menang juga ni kayanya, maklum belum update lagi ni.
Kemudian muncul sedikit pertanyaan, benarkah mereka punya program yang bagus atau mungkin masyarakat kita sekedar lihat image mereka karena bisa dijamin mereka lebih terkenal dibanding pesaingnya. Kalau program bagus mungkin semua orang juga ragu kali ya… Dan yang lebih saya takutkan bahwa masyarakat kita sudah tidak peduli lagi dengan program yang dikampanyekan. Tapi sebenarnya wajar juga fenomena tersebut, gimana mau peduli program kerja, masyarakat kita kan lagi sibuk mengurus agar perut masing-masing kenyang. Himpitan ekonomi dan kehidupan pasti akan menggiring seseorang untuk lebih memilih image daripada program kerja, yang mungkin juga tidak akan pernah terealisasi. Yang membuat saya makin penasran apakah tren semacam ini akan terjadi dan bertahan hingga pemilu nanti? Menurut saya akan sangat mengerikan, karena masih mending punya program kerja walaupun pada akhirnya tidak bisa terealisasi daripada hanya mengandalkan image semata. Dan dari beberapa pilkada yang telah berlangsung, tokoh yang punya popularitas dan image yan bagus biasanya digunakan hanya untuk sebagai wakil saja bukan menjadi yan utama. Di situ sebenarnya sudah sangat terlihat jelas bahwa memang mereka hanya dijadikan kendaraan menuju kemenangan di pilkada. Kalau seperti itu bagaimana kita bisa mendapat pemimpin muda yang baik dan berkualitas bagi bangsa ini…..Saya rasa mari siapkan sapu tangan ataupun tissue yang banyak, karena bangsa ini tampaknya akan tetap menangis beberapa waktu ke depan……………….